Kamis, 04 Mei 2023

MIKROPLASTIK

BAHAYA PENCEMARAN MIKROPLASTIK 

Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri
Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan penyumbang limbah plastik terbesar didunia setelah China sebanyak 60-80% dari total sampah dilaut. Indonesia membuang 64 juta ton sampah ke laut dan 3,2 juta ton diantaranya adalah sampah plastik (Ridlo et al., 2020). Penelitian dari World Wild Fund (WWF) Indonesia menunjukkan bahwa 25% spesies ikan di laut mengandung partikel mikroplastik. Sementara data dari Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa setiap tahunnya diperkirakan lautan Indonesia menerima sebesar 70-80% sampah plastik yang bersumber dari manusia. Sebagian sampah tersebut membuat ekosistem dan biota laut terancam.

Salah satu permasalahan yang dialami oleh semua negara di dunia saat ini yaitu sampah. Sampah merupakan hsail buangan dari barang ataupun bahan yang tidak digunakan lagi seperti sisa makanan serta kemasan plastik makanan dan minuman. Tingginya produksi sampah yang dihasilkan sejalan dengan populasi penduduk mengingat setiap individu pastinya menghasilkan sampah dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Sampah plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.

Penggunaan plastik saat ini telah menjadi kebutuhan sehari-hari. Meningkatnya jumlah penduduk, aktivitas manusia dan pola kehidupan masyarakat yang tetap mengakibatkan tekanan terhadap lingkungan semakin berat. Beragamnya aktivitas manusia dalam mencukupi kehidupan sehari-hari yang berasal dari pertanian, industri, kegiatan rumah tangga akan meningkatkan penggunaan air sungai sekaligus menghasilkan limbah yang semakin besar dari waktu ke waktu. Hal tersebut mengakibatkan penurunan kualitas air serta pencemaran mikroplastik di perairan. Sifat plastik yang ringan, kuat dan tahan lama serta murah menyebabkan penggunaan plastik terus meningkat untuk kebutuhan sehari-hari. Sampah plastik yang dibuang ke wilayah pantai akan terbawa arus pasang surut dan akan mengendap pada ekosistem pesisir penting seperti mangrove, lamun dan terumbu karang (Tuhumury dan Agustina, 2020).

Plastik terdegradasi menjadi partikel yang lebih kecil yang dikenal sebagai mikroplastik, sehingga dapat terakumulasi di air laut dan sedimen. Mikroplastik merupakan potongan plastik yang sangat kecil dan dapat mencemari lingkungan. Mikroplastik dilaut umumnya berasal dari plastik yang berada di daratan yang memiliki unsur kimia dan tidak mengalami perubahan atau pemotongan atom penyusunnya (Wang et al., 2017). Terdapat dua tipe mikroplastik yaitu mikroplastik primer dan sekunder. Mikroplastik primer adalah hasil produksi plastik yang dibuat dalam bentuk mikro, seperti microbeads pada produk perawatan kulit yang masuk ke dalam saluran air. Mikroplastik sekunder merupakan pecahan, bagian, atau hasil fragmentasi dari plastik yang lebih besar (Gracia and Lin, 2019).

Mikroplastik tidak hanya ada di air permukaan, tetapi juga di sedimen, tanah, dan organisme. Mikroplastik dengan ukuran khusus dan sifat stabil adalah tempat berkembang biak bagi mikroorganisme dan pembawa polutan (Pan et al., 2019). Organisme akuatik dapat dengan mudah menelan mikroplastik karena ukurannya yang kecil dan menyerupai larva organisme termasuk plankton (Kataoka, 2019). 

ISI

Salah satu limbah plastik yang dapat mempengaruhi siklus makanan di wilayah pesisir dan laut adalah mikroplastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik yang diameternya berukuran kurang dari 5 mm. Secara proses kimiawi, potensi dampak sampah laut akan cenderung meningkat seiring menurunnya ukuran partikel plastik Mikroplastik memiliki potensi menyebabkan terganggunya rantai makanan apabila menumpuk di wilayah perairan. Mikroplastik berpotensi memiliki potensi ancaman lebih serius dibanding dengan material plastik yang berukuran besar bagi organisme yang mendiami tingkatan tropik yang lebih rendah, seperti plankton yang mempunyai partikel rentan terhadap proses pencernaan mikroplastik sebagai akibatnya melalui proses bioakumulasi dapat mempengaruhi organisme tropik tingkat tinggi (Haji et al., 2021).

Pencemaran mikroplastik telah tersebar secara global menjadi permasalahan yang harus di waspadai. Mikroplastik memiliki banyak sekali dampak yang luas dan merata yaitu kesehatan manusia, ekonomi, dan pariwisata. Mikroplastik dapat tersebar luas di lingkungan melalui proses hidrodinamik. Firmansyah dkk. (2021) menyatakan keberadaan mikroplastik mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Mikroplastik banyak tersebar pada kolom air dan sedimen kemudian akan masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi biota yang mengandung mikroplastik (Mardiyana & Kristiningsih, 2020).

Kontaminasi mikroplastik di wilayah perairan dapat memasuki rantai makanan dan terkonsumsi oleh hewan perairan. Mikroplastik di perairan  dapat  secara  langsung  maupun  tidak  langsung  masuk  dan  terkonsumsi  oleh organisme  akuatik  melalui  jalur  belitan  (entanglement),  tertelan  (ingestion),  dan interaksi  (interaction). Ukuran  yang  kecil  menyebabkan mikroplastik  sering  dianggap  sebagai  makanan  oleh  hewan  perairan  dan  masuk  ke saluran pencernaan sehingga berpotensi membawa partikel tersebut masuk ke piramida makanan hingga ke tingkat trofik tertinggi (Wahdani et al., 2020). Kontaminasi mikroplastik di lingkungan dan organisme dapat menimbulkan efek bahaya.   Namun,   masih   belum   banyak   masyarakat   mengetahui   kondisi   terkini keberadaan  mikroplastik  di  sekitar  sehingga monitoring serta  edukasi  persampahan kepada   masyarakat   sangat   penting   dilakukan   secara berkesinambungan   untuk membentuk  masyarakat  yang  bijak  dalam  mengelola  sampah.

KESIMPULAN

Sampah plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Sifat plastik yang ringan, kuat dan tahan lama serta murah menyebabkan penggunaan plastik terus meningkat untuk kebutuhan sehari-hari. Sampah plastik yang dibuang ke wilayah pantai akan terbawa arus pasang surut dan akan mengendap pada ekosistem pesisir penting seperti mangrove, lamun dan terumbu karang. Mikroplastik memiliki banyak sekali dampak yang luas dan merata yaitu kesehatan manusia, ekonomi, dan pariwisata. Mikroplastik dapat tersebar luas di lingkungan melalui proses hidrodinamik. Kontaminasi mikroplastik di lingkungan dan organisme dapat menimbulkan efek bahaya.   Namun,   masih   belum   banyak   masyarakat   mengetahui   kondisi   terkini keberadaan  mikroplastik  di  sekitar  sehingga monitoring serta  edukasi  persampahan kepada   masyarakat   sangat   penting   dilakukan   secara berkesinambungan   untuk membentuk  masyarakat  yang  bijak  dalam  mengelola  sampah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Firmansyah, Y. W., Fuadi, M. F., Ramadhansyah, M. F., Sugiester S, F., Widyantoro, W., Lewinsca, M. Y., Diyana, S., Marliana, N. I. V., Arumdani, I. S., Pratama, A. Y., Azhari, D., Sukaningtyas, R., & Hardiyanto, A. (2021). Keberadaan Plastik di Lingkungan, Bahaya terhadap Kesehatan Manusia, dan Upaya Mitigasi: Studi Literatur. Jurnal Serambi Engineering, 6(4), 2279–2285. https://doi.org/10.32672/jse.v6i4.3471.

Garcia, B., M. M. Fang, J. Lin. 2019. Marine Plastic Pollution in Asia: All Hands on Deck!. Chinese Journal of Environmental Law 3(1): 11-46. DOI: https://doi.org/10.1163/ 24686042-12340034.

Haji, A.T.S., B, Rahadi., N.T., Firdausi. 2021. Analisis kelimpahan mikroplastik pada air permukaan di sungai metro, Malang. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 8(2): 78-84. DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jsal.2021.008.02.3.

Kataoka, T. (2019) ‘Assessment of the sources and inflow processes of microplastics in the river environments of Japan’, Environmental Pollution, 244, pp. 958–965. DOI: 10.1016/j.envpol.2018.10.111.

Mardiyana, M., & Kristiningsih, A. (2020). Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut terhadap Zooplankton. Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan (JPPL), 2(1), 29–36. DOI: https://doi.org/10.35970/jppl.v2i1.147.

Pan, Z. et al. (2019) ‘Microplastics in the Northwestern Pacific: Abundance, distribution, and characteristics’, Science of the Total Environment, 650, pp. 1913–1922. doi: 10.1016/j.scitotenv.2018.09.244.

Ramadan, A. H. and Sembiring, E. (2020) ‘Occurrence of Microplastic in surface water of Jatiluhur Reservoir’, E3S Web of Conferences, 148, pp. 1–4. doi: 10.1051/e3sconf/202014807004.

Tuhumuy, N, C. dan A, Ritonga. 2020. Identifikasi keberadaan dan jenis mikroplastik pada kerang darah di perairan tanjung tiram, teluk Ambon. Jurnal Triton. 16(1): 1-7. DOI: https://doi.org/10.30598/TRITONvol16issue1page1-7

Wang, J., Peng, J., Tan, Zhiwei, Z. Y. G., Chen, Q. & Cai, L. 2017. Microplastics in the Surface Sediments from the Beijiang River Littoral Zone : Composition, Abundance, Surface Texture Sand Interaction with Heavy Metals. J. Chemsphere. 171:248-258. DOI: https://doi.org/10.1016/j.chemosphere.2016.12.074


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENCEMARAN PESTISIDA

  BAHAYANYA PENCEMARAN PESTISIDA PADA EKOSISTEM LAUT Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universita...