BAHAYA PENCEMARAN MIKROPLASTIK
PENDAHULUAN
Indonesia
merupakan penyumbang limbah plastik terbesar didunia setelah China sebanyak
60-80% dari total sampah dilaut. Indonesia membuang 64 juta ton sampah ke laut
dan 3,2 juta ton diantaranya adalah sampah plastik (Ridlo et al., 2020).
Penelitian dari World Wild Fund (WWF) Indonesia menunjukkan bahwa 25% spesies
ikan di laut mengandung partikel mikroplastik. Sementara data dari Pusat
Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
menunjukkan bahwa setiap tahunnya diperkirakan lautan Indonesia menerima
sebesar 70-80% sampah plastik yang bersumber dari manusia. Sebagian sampah
tersebut membuat ekosistem dan biota laut terancam.
Salah satu
permasalahan yang dialami oleh semua negara di dunia saat ini yaitu sampah.
Sampah merupakan hsail buangan dari barang ataupun bahan yang tidak digunakan
lagi seperti sisa makanan serta kemasan plastik makanan dan minuman. Tingginya
produksi sampah yang dihasilkan sejalan dengan populasi penduduk mengingat
setiap individu pastinya menghasilkan sampah dalam setiap aktivitas yang
dilakukan. Sampah plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai,
membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.
Penggunaan plastik
saat ini telah menjadi kebutuhan sehari-hari. Meningkatnya jumlah penduduk,
aktivitas manusia dan pola kehidupan masyarakat yang tetap mengakibatkan
tekanan terhadap lingkungan semakin berat. Beragamnya aktivitas manusia dalam
mencukupi kehidupan sehari-hari yang berasal dari pertanian, industri, kegiatan
rumah tangga akan meningkatkan penggunaan air sungai sekaligus menghasilkan
limbah yang semakin besar dari waktu ke waktu. Hal tersebut mengakibatkan
penurunan kualitas air serta pencemaran mikroplastik di perairan. Sifat plastik
yang ringan, kuat dan tahan lama serta murah menyebabkan penggunaan plastik
terus meningkat untuk kebutuhan sehari-hari. Sampah plastik yang dibuang ke
wilayah pantai akan terbawa arus pasang surut dan akan mengendap pada ekosistem
pesisir penting seperti mangrove, lamun dan terumbu karang (Tuhumury dan
Agustina, 2020).
Plastik terdegradasi
menjadi partikel yang lebih kecil yang dikenal sebagai mikroplastik, sehingga dapat
terakumulasi di air laut dan sedimen. Mikroplastik merupakan potongan plastik yang
sangat kecil dan dapat mencemari lingkungan. Mikroplastik dilaut umumnya
berasal dari plastik yang berada di daratan yang memiliki unsur kimia dan tidak
mengalami perubahan atau pemotongan atom penyusunnya (Wang et al.,
2017). Terdapat dua tipe mikroplastik yaitu mikroplastik primer dan sekunder.
Mikroplastik primer adalah hasil produksi plastik yang dibuat dalam bentuk
mikro, seperti microbeads pada produk perawatan kulit yang masuk ke dalam saluran
air. Mikroplastik sekunder merupakan pecahan, bagian, atau hasil fragmentasi
dari plastik yang lebih besar (Gracia and Lin, 2019).
ISI
Salah satu limbah
plastik yang dapat mempengaruhi siklus makanan di wilayah pesisir dan laut
adalah mikroplastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik yang diameternya
berukuran kurang dari 5 mm. Secara proses kimiawi, potensi dampak sampah laut
akan cenderung meningkat seiring menurunnya ukuran partikel plastik
Mikroplastik memiliki potensi menyebabkan terganggunya rantai makanan apabila
menumpuk di wilayah perairan. Mikroplastik berpotensi memiliki potensi ancaman
lebih serius dibanding dengan material plastik yang berukuran besar bagi organisme
yang mendiami tingkatan tropik yang lebih rendah, seperti plankton yang
mempunyai partikel rentan terhadap proses pencernaan mikroplastik sebagai
akibatnya melalui proses bioakumulasi dapat mempengaruhi organisme tropik
tingkat tinggi (Haji et al., 2021).
Pencemaran
mikroplastik telah tersebar secara global menjadi permasalahan yang harus di
waspadai. Mikroplastik memiliki banyak sekali dampak yang luas dan merata yaitu
kesehatan manusia, ekonomi, dan pariwisata. Mikroplastik dapat tersebar luas di
lingkungan melalui proses hidrodinamik. Firmansyah dkk. (2021) menyatakan
keberadaan mikroplastik mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir.
Mikroplastik banyak tersebar pada kolom air dan sedimen kemudian akan masuk ke
tubuh manusia melalui konsumsi biota yang mengandung mikroplastik (Mardiyana
& Kristiningsih, 2020).
Kontaminasi
mikroplastik di wilayah perairan dapat memasuki rantai makanan dan terkonsumsi
oleh hewan perairan. Mikroplastik di perairan
dapat secara langsung
maupun tidak langsung
masuk dan terkonsumsi
oleh organisme akuatik melalui
jalur belitan (entanglement), tertelan
(ingestion), dan interaksi (interaction). Ukuran yang
kecil menyebabkan
mikroplastik sering dianggap
sebagai makanan oleh
hewan perairan dan
masuk ke saluran pencernaan
sehingga berpotensi membawa partikel tersebut masuk ke piramida makanan hingga
ke tingkat trofik tertinggi (Wahdani et al., 2020). Kontaminasi mikroplastik di
lingkungan dan organisme dapat menimbulkan efek bahaya. Namun,
masih belum banyak
masyarakat mengetahui kondisi
terkini keberadaan
mikroplastik di sekitar
sehingga monitoring serta
edukasi persampahan kepada masyarakat
sangat penting dilakukan
secara berkesinambungan untuk
membentuk masyarakat yang
bijak dalam mengelola
sampah.
KESIMPULAN
Sampah plastik
merupakan jenis sampah yang sulit terurai, membutuhkan waktu yang sangat lama
untuk terurai. Sifat plastik yang ringan, kuat dan tahan lama serta murah
menyebabkan penggunaan plastik terus meningkat untuk kebutuhan sehari-hari.
Sampah plastik yang dibuang ke wilayah pantai akan terbawa arus pasang surut
dan akan mengendap pada ekosistem pesisir penting seperti mangrove, lamun dan
terumbu karang. Mikroplastik memiliki banyak sekali dampak yang luas dan merata
yaitu kesehatan manusia, ekonomi, dan pariwisata. Mikroplastik dapat tersebar
luas di lingkungan melalui proses hidrodinamik. Kontaminasi mikroplastik di
lingkungan dan organisme dapat menimbulkan efek bahaya. Namun,
masih belum banyak
masyarakat mengetahui kondisi
terkini keberadaan
mikroplastik di sekitar
sehingga monitoring serta
edukasi persampahan kepada masyarakat
sangat penting dilakukan
secara berkesinambungan untuk
membentuk masyarakat yang
bijak dalam mengelola
sampah.
DAFTAR PUSTAKA
Firmansyah, Y. W., Fuadi, M. F., Ramadhansyah, M. F., Sugiester
S, F., Widyantoro, W., Lewinsca, M. Y., Diyana, S., Marliana, N. I. V.,
Arumdani, I. S., Pratama, A. Y., Azhari, D., Sukaningtyas, R., &
Hardiyanto, A. (2021). Keberadaan Plastik di Lingkungan, Bahaya terhadap Kesehatan
Manusia, dan Upaya Mitigasi: Studi Literatur. Jurnal Serambi Engineering, 6(4),
2279–2285. https://doi.org/10.32672/jse.v6i4.3471.
Garcia, B., M. M. Fang, J. Lin. 2019. Marine Plastic Pollution
in Asia: All Hands on Deck!. Chinese Journal of Environmental Law 3(1): 11-46.
DOI: https://doi.org/10.1163/ 24686042-12340034.
Haji, A.T.S., B, Rahadi., N.T., Firdausi. 2021. Analisis kelimpahan mikroplastik pada air permukaan di sungai metro, Malang. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 8(2): 78-84. DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jsal.2021.008.02.3.
Kataoka, T. (2019) ‘Assessment of the sources and
inflow processes of microplastics in the river environments of Japan’,
Environmental Pollution, 244, pp. 958–965. DOI: 10.1016/j.envpol.2018.10.111.
Mardiyana, M., & Kristiningsih, A. (2020). Dampak
Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut terhadap Zooplankton. Jurnal Pengendalian
Pencemaran Lingkungan (JPPL), 2(1), 29–36. DOI: https://doi.org/10.35970/jppl.v2i1.147.
Pan, Z. et al. (2019) ‘Microplastics in the
Northwestern Pacific: Abundance, distribution, and characteristics’, Science of
the Total Environment, 650, pp. 1913–1922. doi:
10.1016/j.scitotenv.2018.09.244.
Ramadan, A. H. and Sembiring, E. (2020) ‘Occurrence of
Microplastic in surface water of Jatiluhur Reservoir’, E3S Web of Conferences,
148, pp. 1–4. doi: 10.1051/e3sconf/202014807004.
Tuhumuy, N, C. dan A, Ritonga. 2020. Identifikasi
keberadaan dan jenis mikroplastik pada kerang darah di perairan tanjung tiram,
teluk Ambon. Jurnal Triton. 16(1): 1-7. DOI:
https://doi.org/10.30598/TRITONvol16issue1page1-7
Wang, J., Peng, J., Tan, Zhiwei, Z. Y. G., Chen, Q.
& Cai, L. 2017. Microplastics in the Surface Sediments from the Beijiang
River Littoral Zone : Composition, Abundance, Surface Texture Sand Interaction
with Heavy Metals. J. Chemsphere. 171:248-258. DOI: https://doi.org/10.1016/j.chemosphere.2016.12.074
Tidak ada komentar:
Posting Komentar