BAHAYANYA PENCEMARAN PESTISIDA PADA EKOSISTEM LAUT
PENDAHULUAN
Pestisida adalah istilah umum yang mencakup semua
bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama (Akan et al., 2014).
Pestisida dan bahan kimia terkait dapat mengganggu keseimbangan antara spesies
dan ekosistemnya. Pestisida berkontribusi besar terhadap perubahan organisme
air tawar dan mempengaruhi aktivitas beberapa enzim. Pestisida
non-biodegradable akan terbawa arus air dan masuk ke dalam organisme air,
konsentrasi pestisida yang tinggi di dalam air dapat membunuh organisme air.
Kerusakan pestisida bersifat kumulatif karena sengaja disebarkan di lingkungan
untuk tujuan pengendalian hama tanaman atau organisme lain yang tidak
diinginkan. Penggunaan pestisida dengan ikatan molekul yang kuat akan bertahan
di alam selama beberapa tahun sejak mulai digunakan. Akumulasi pestisida dalam
jaringan tubuh bersifat racun dan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat.
Pertanian tidak dapat dipisahkan dari penggunaan pestisida,
terutama dalam budidaya padi sawah untuk meningkatkan product kualitatif dan
kuantitatif (Ogunfowokan et al., 2012). Daya racun atau toksisitas
adalah karakteristik utama pestisida. Bahan kimia ini sebenarnya bersifat racun
bagi semua makhluk hidup, meskipun tujuannya hanya untuk membunuh jenis hama
tertentu. Hampir semua jenis pestisida tidak selektif dan memiliki spektrum
racun yang luas, sehingga dapat mencemari sumber daya dan lingkungan perairan.
Pestisida yang digunakan di sawah, terutama pada awal musim tanam, akan jatuh
ke dalam air dan mencemari perairan (Srinivasulu & Ortiz 2017).
Pestisida masuk ke air melalui aliran, limpasan,
pencucian tanah, atau langsung ke air permukaan, yang terkadang digunakan untuk
pengendalian nyamuk. Kehidupan akuatik sangat rentan terhadap air yang
terkontaminasi pestisida. Ini dapat berdampak pada tanaman air, mengurangi
jumlah oksigen terlarut dalam air, dan dapat menyebabkan perubahan fisiologis
dan perilaku dalam populasi ikan. Pestisida untuk perawatan rumput telah ditemukan
di permukaan air dan badan air seperti kolam, sungai, dan danau dalam beberapa
penelitian. Pestisida yang ditanam di tanah akan masuk ke ekosistem akuatik,
menyebabkan racun bagi ikan dan makhluk lain di akuatik (Cruz et al.,
2014) Penggunaan pestisida yang berlebihan akan menyebabkan populasi ikan
menurun.
ISI
Hewan bivalva, seperti kerang sering digunakan sebagai
bioindikator untuk memonitor pencemaran oleh senyawa-senyawa organik di kawasan
pantai (Cardoso et al., 2013). Hal ini disebabkan oleh distribusi penyebarannya
yang luas, mempunyai sifat hidup menetap, mudah untuk dilakukan pengambilan
contoh, di samping, mempunyai toleransi yang luas terhadap salinitas, tahan terhadap
tekanan dan tingginya akumulasi berbagai bahan kimia (Andral et al., 2011).
Penggunaan bahan kimia sintesis meningkat sebagai
hasil dari kemajuan teknologi kimia saat ini. Penggunaan bahan kimia seperti
pestisida semakin dibutuhkan dalam sektor pertanian untuk meningkatkan produksi
pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang semakin meningkat (Murugan
et al., 2014). Dengan cepatnya pertumbuhan populasi di seluruh dunia
bersama dengan peningkatan lingkungan industry, semakin banyak bahan racun yang
dibuang ke laut, yang sulit untuk dikontrol. Pencemaran laut merupakan ancaman
yang benar-benar perlu ditangani. Bahan kimia, khususnya pestisida, telah
terbukti memiliki efek negatif yang nyata. Penggunaan bahan kimia dalam
pertanian dianggap membantu kemajuan pertanian di negara-negara yang sedang
berkembang, dengan memenuhi kebutuhan pangan dan sandang mereka sendiri (Cozzolino
et al., 2013).
Setelah mencapai konsentrasi tertentu, residu
pestisida yang tercemar dalam air akan memiliki dampak yang signifikan terhadap
organisme akuatik yang hidup di dalamnya, serta lingkungan sekitarnya. Karena
ikan dapat menyerap berbagai pestisida, terutama yang bersifat lipofilik (mudah
terikat dalam jaringan lemak), ikan yang hidup di perairan yang tercemar
pestisida akan menyerap dan menyimpan pestisida dalam tubuh mereka (Cardoso et
al., 2012). Dalam kondisi perairan subletal, konsentrasi residu pestisida
dalam tubuh ikan yang dihasilkan melalui proses bioakumulasi akan meningkat
seiring dengan waktu pemaparan yang diperlukan untuk mencapai kondisi steady
state. Selain itu, pengaruh lanjut dari bioakumulasi pestisida pada konsentrasi
tertentu dapat secara signifikan mengurangi laju pertumbuhan dan mempengaruhi
kondisi (Andral et al., 2011).
KESIMPULAN
Pestisida dan bahan kimia terkait dapat mengganggu
keseimbangan antara spesies dan ekosistemnya. Pestisida berkontribusi besar
terhadap perubahan organisme air tawar dan mempengaruhi aktivitas beberapa
enzim. Kehidupan akuatik sangat rentan terhadap air yang terkontaminasi
pestisida. Ini dapat berdampak pada tanaman air, mengurangi jumlah oksigen
terlarut dalam air, dan dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan perilaku
dalam populasi ikan. Pencemaran laut merupakan ancaman yang benar-benar perlu
ditangani. Bahan kimia, khususnya pestisida, telah terbukti memiliki efek
negatif yang nyata. Penggunaan bahan kimia dalam pertanian dianggap membantu
kemajuan pertanian di negara-negara yang sedang berkembang, dengan memenuhi
kebutuhan pangan dan sandang mereka sendiri
DAFTAR PUSTAKA
Akan, J.C., F.I. Abdulrahman, and Z. M. Chellube.
2014. Organochlorine and organophosphorus pesticide residues in fish samples
from Lake Chad, Baga, North. Eastern Nigeria. International J. of
Innovation, Management and Technology. 5(2):87-92. DOI:10.7763/IJIMT.2014.V5.492
Andral, B., F. Galgani, C. Tomasino, M. Bouchoucha, C.
Blottiere, A. Scarpato, J. Benedicto, S. Deudero, M. Calvo, A. Cento, S.
Benbrahim, M. Boulahdid, and C. Sammari. 2011. Chemical contamination baseline
in the western basin of the Mediterranean Sea based on transplanted mussels. Arch.
Environ. Contam. Toxicol., 61(2):261-271. DOI:10.1007/s00244-010-9599-x
Cardoso, P.G., E, Pereira, T.F. Grilo, A.C. Duarte,
M.A. Pardal. 2012. Kinetics of mercury bioaccumulation in the polychaete
Hediste diversicolor and in the bivalve Scrobicularia plana, through a dietary
exposure pathway. Water Air Soil Pollut., 223:421-428. DOI:10.1007/s11270-011-0870-1
Cozzolino, V., V. D. Meo, dan A. Piccolo. 2013. Impact
of Arbuscular Mycorrhizal Fungi Applications on Maize Production and Soil
Phosphorus Availability. Journal of Geochemical Exploration. 40–44. DOI:10.1016/j.gexplo.2013.02.006
Cruz E., Bravo-Durán V., Ramírez F. and Castillo L.,
2014. Environmental hazards associated with pesticide import into Costa Rica, 1977-2009.
Journal of Environmental Biology (JEB). 35(5): 43-55, January 2014.
Murugan A.V, Swarman T.P, Gnanasambadan S. (2013). Status
and effect of pesticide residues in soils under different land uses of Andaman
Islands, India Article. PubMed. April 2013. DOI:10.1007/s10661-013-3162-y
Ogunfowokan1 A., Oyekunle1 J., Torto N. and Akanni1
S., 2012. A study on persistent organochlorine pesticide residues in fish
tissues and water from an agricultural fish pond. Emir. J. Food Agric.,
Vol.24 (2), pp.:165-184.
Srinivasulu M., and Ortiz D.R. (2017). Effect of
Pesticides on Bacterial and Fungal Populations in Ecuadorian Tomato Cultivated
Soils. Journal Environmental Processes, 4(1) 93–105.
DOI:10.1007/s40710-017-0212-4.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar