Rabu, 24 Mei 2023

PENCEMARAN PESTISIDA

 BAHAYANYA PENCEMARAN PESTISIDA PADA EKOSISTEM LAUT

Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri
Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

PENDAHULUAN

Pestisida adalah istilah umum yang mencakup semua bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama (Akan et al., 2014). Pestisida dan bahan kimia terkait dapat mengganggu keseimbangan antara spesies dan ekosistemnya. Pestisida berkontribusi besar terhadap perubahan organisme air tawar dan mempengaruhi aktivitas beberapa enzim. Pestisida non-biodegradable akan terbawa arus air dan masuk ke dalam organisme air, konsentrasi pestisida yang tinggi di dalam air dapat membunuh organisme air. Kerusakan pestisida bersifat kumulatif karena sengaja disebarkan di lingkungan untuk tujuan pengendalian hama tanaman atau organisme lain yang tidak diinginkan. Penggunaan pestisida dengan ikatan molekul yang kuat akan bertahan di alam selama beberapa tahun sejak mulai digunakan. Akumulasi pestisida dalam jaringan tubuh bersifat racun dan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat. 

Pertanian tidak dapat dipisahkan dari penggunaan pestisida, terutama dalam budidaya padi sawah untuk meningkatkan product kualitatif dan kuantitatif (Ogunfowokan et al., 2012). Daya racun atau toksisitas adalah karakteristik utama pestisida. Bahan kimia ini sebenarnya bersifat racun bagi semua makhluk hidup, meskipun tujuannya hanya untuk membunuh jenis hama tertentu. Hampir semua jenis pestisida tidak selektif dan memiliki spektrum racun yang luas, sehingga dapat mencemari sumber daya dan lingkungan perairan. Pestisida yang digunakan di sawah, terutama pada awal musim tanam, akan jatuh ke dalam air dan mencemari perairan (Srinivasulu & Ortiz 2017).

Pestisida masuk ke air melalui aliran, limpasan, pencucian tanah, atau langsung ke air permukaan, yang terkadang digunakan untuk pengendalian nyamuk. Kehidupan akuatik sangat rentan terhadap air yang terkontaminasi pestisida. Ini dapat berdampak pada tanaman air, mengurangi jumlah oksigen terlarut dalam air, dan dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan perilaku dalam populasi ikan. Pestisida untuk perawatan rumput telah ditemukan di permukaan air dan badan air seperti kolam, sungai, dan danau dalam beberapa penelitian. Pestisida yang ditanam di tanah akan masuk ke ekosistem akuatik, menyebabkan racun bagi ikan dan makhluk lain di akuatik (Cruz et al., 2014) Penggunaan pestisida yang berlebihan akan menyebabkan populasi ikan menurun.

 

ISI

Hewan bivalva, seperti kerang sering digunakan sebagai bioindikator untuk memonitor pencemaran oleh senyawa-senyawa organik di kawasan pantai (Cardoso et al., 2013). Hal ini disebabkan oleh distribusi penyebarannya yang luas, mempunyai sifat hidup menetap, mudah untuk dilakukan pengambilan contoh, di samping, mempunyai toleransi yang luas terhadap salinitas, tahan terhadap tekanan dan tingginya akumulasi berbagai bahan kimia (Andral et al., 2011).

Penggunaan bahan kimia sintesis meningkat sebagai hasil dari kemajuan teknologi kimia saat ini. Penggunaan bahan kimia seperti pestisida semakin dibutuhkan dalam sektor pertanian untuk meningkatkan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang semakin meningkat (Murugan et al., 2014). Dengan cepatnya pertumbuhan populasi di seluruh dunia bersama dengan peningkatan lingkungan industry, semakin banyak bahan racun yang dibuang ke laut, yang sulit untuk dikontrol. Pencemaran laut merupakan ancaman yang benar-benar perlu ditangani. Bahan kimia, khususnya pestisida, telah terbukti memiliki efek negatif yang nyata. Penggunaan bahan kimia dalam pertanian dianggap membantu kemajuan pertanian di negara-negara yang sedang berkembang, dengan memenuhi kebutuhan pangan dan sandang mereka sendiri (Cozzolino et al., 2013).

Setelah mencapai konsentrasi tertentu, residu pestisida yang tercemar dalam air akan memiliki dampak yang signifikan terhadap organisme akuatik yang hidup di dalamnya, serta lingkungan sekitarnya. Karena ikan dapat menyerap berbagai pestisida, terutama yang bersifat lipofilik (mudah terikat dalam jaringan lemak), ikan yang hidup di perairan yang tercemar pestisida akan menyerap dan menyimpan pestisida dalam tubuh mereka (Cardoso et al., 2012). Dalam kondisi perairan subletal, konsentrasi residu pestisida dalam tubuh ikan yang dihasilkan melalui proses bioakumulasi akan meningkat seiring dengan waktu pemaparan yang diperlukan untuk mencapai kondisi steady state. Selain itu, pengaruh lanjut dari bioakumulasi pestisida pada konsentrasi tertentu dapat secara signifikan mengurangi laju pertumbuhan dan mempengaruhi kondisi (Andral et al., 2011).

KESIMPULAN

Pestisida dan bahan kimia terkait dapat mengganggu keseimbangan antara spesies dan ekosistemnya. Pestisida berkontribusi besar terhadap perubahan organisme air tawar dan mempengaruhi aktivitas beberapa enzim. Kehidupan akuatik sangat rentan terhadap air yang terkontaminasi pestisida. Ini dapat berdampak pada tanaman air, mengurangi jumlah oksigen terlarut dalam air, dan dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan perilaku dalam populasi ikan. Pencemaran laut merupakan ancaman yang benar-benar perlu ditangani. Bahan kimia, khususnya pestisida, telah terbukti memiliki efek negatif yang nyata. Penggunaan bahan kimia dalam pertanian dianggap membantu kemajuan pertanian di negara-negara yang sedang berkembang, dengan memenuhi kebutuhan pangan dan sandang mereka sendiri

DAFTAR PUSTAKA

Akan, J.C., F.I. Abdulrahman, and Z. M. Chellube. 2014. Organochlorine and organophosphorus pesticide residues in fish samples from Lake Chad, Baga, North. Eastern Nigeria. International J. of Innovation, Management and Technology. 5(2):87-92. DOI:10.7763/IJIMT.2014.V5.492

Andral, B., F. Galgani, C. Tomasino, M. Bouchoucha, C. Blottiere, A. Scarpato, J. Benedicto, S. Deudero, M. Calvo, A. Cento, S. Benbrahim, M. Boulahdid, and C. Sammari. 2011. Chemical contamination baseline in the western basin of the Mediterranean Sea based on transplanted mussels. Arch. Environ. Contam. Toxicol., 61(2):261-271. DOI:10.1007/s00244-010-9599-x

Cardoso, P.G., E, Pereira, T.F. Grilo, A.C. Duarte, M.A. Pardal. 2012. Kinetics of mercury bioaccumulation in the polychaete Hediste diversicolor and in the bivalve Scrobicularia plana, through a dietary exposure pathway. Water Air Soil Pollut., 223:421-428. DOI:10.1007/s11270-011-0870-1

Cozzolino, V., V. D. Meo, dan A. Piccolo. 2013. Impact of Arbuscular Mycorrhizal Fungi Applications on Maize Production and Soil Phosphorus Availability. Journal of Geochemical Exploration. 40–44. DOI:10.1016/j.gexplo.2013.02.006

Cruz E., Bravo-Durán V., Ramírez F. and Castillo L., 2014. Environmental hazards associated with pesticide import into Costa Rica, 1977-2009. Journal of Environmental Biology (JEB). 35(5): 43-55, January 2014.

Murugan A.V, Swarman T.P, Gnanasambadan S. (2013). Status and effect of pesticide residues in soils under different land uses of Andaman Islands, India Article. PubMed. April 2013. DOI:10.1007/s10661-013-3162-y

Ogunfowokan1 A., Oyekunle1 J., Torto N. and Akanni1 S., 2012. A study on persistent organochlorine pesticide residues in fish tissues and water from an agricultural fish pond. Emir. J. Food Agric., Vol.24 (2), pp.:165-184.

Srinivasulu M., and Ortiz D.R. (2017). Effect of Pesticides on Bacterial and Fungal Populations in Ecuadorian Tomato Cultivated Soils. Journal Environmental Processes, 4(1) 93–105. DOI:10.1007/s40710-017-0212-4.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENCEMARAN PESTISIDA

  BAHAYANYA PENCEMARAN PESTISIDA PADA EKOSISTEM LAUT Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universita...