Rabu, 24 Mei 2023

PENCEMARAN PESTISIDA

 BAHAYANYA PENCEMARAN PESTISIDA PADA EKOSISTEM LAUT

Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri
Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

PENDAHULUAN

Pestisida adalah istilah umum yang mencakup semua bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama (Akan et al., 2014). Pestisida dan bahan kimia terkait dapat mengganggu keseimbangan antara spesies dan ekosistemnya. Pestisida berkontribusi besar terhadap perubahan organisme air tawar dan mempengaruhi aktivitas beberapa enzim. Pestisida non-biodegradable akan terbawa arus air dan masuk ke dalam organisme air, konsentrasi pestisida yang tinggi di dalam air dapat membunuh organisme air. Kerusakan pestisida bersifat kumulatif karena sengaja disebarkan di lingkungan untuk tujuan pengendalian hama tanaman atau organisme lain yang tidak diinginkan. Penggunaan pestisida dengan ikatan molekul yang kuat akan bertahan di alam selama beberapa tahun sejak mulai digunakan. Akumulasi pestisida dalam jaringan tubuh bersifat racun dan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat. 

Pertanian tidak dapat dipisahkan dari penggunaan pestisida, terutama dalam budidaya padi sawah untuk meningkatkan product kualitatif dan kuantitatif (Ogunfowokan et al., 2012). Daya racun atau toksisitas adalah karakteristik utama pestisida. Bahan kimia ini sebenarnya bersifat racun bagi semua makhluk hidup, meskipun tujuannya hanya untuk membunuh jenis hama tertentu. Hampir semua jenis pestisida tidak selektif dan memiliki spektrum racun yang luas, sehingga dapat mencemari sumber daya dan lingkungan perairan. Pestisida yang digunakan di sawah, terutama pada awal musim tanam, akan jatuh ke dalam air dan mencemari perairan (Srinivasulu & Ortiz 2017).

Pestisida masuk ke air melalui aliran, limpasan, pencucian tanah, atau langsung ke air permukaan, yang terkadang digunakan untuk pengendalian nyamuk. Kehidupan akuatik sangat rentan terhadap air yang terkontaminasi pestisida. Ini dapat berdampak pada tanaman air, mengurangi jumlah oksigen terlarut dalam air, dan dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan perilaku dalam populasi ikan. Pestisida untuk perawatan rumput telah ditemukan di permukaan air dan badan air seperti kolam, sungai, dan danau dalam beberapa penelitian. Pestisida yang ditanam di tanah akan masuk ke ekosistem akuatik, menyebabkan racun bagi ikan dan makhluk lain di akuatik (Cruz et al., 2014) Penggunaan pestisida yang berlebihan akan menyebabkan populasi ikan menurun.

 

ISI

Hewan bivalva, seperti kerang sering digunakan sebagai bioindikator untuk memonitor pencemaran oleh senyawa-senyawa organik di kawasan pantai (Cardoso et al., 2013). Hal ini disebabkan oleh distribusi penyebarannya yang luas, mempunyai sifat hidup menetap, mudah untuk dilakukan pengambilan contoh, di samping, mempunyai toleransi yang luas terhadap salinitas, tahan terhadap tekanan dan tingginya akumulasi berbagai bahan kimia (Andral et al., 2011).

Penggunaan bahan kimia sintesis meningkat sebagai hasil dari kemajuan teknologi kimia saat ini. Penggunaan bahan kimia seperti pestisida semakin dibutuhkan dalam sektor pertanian untuk meningkatkan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang semakin meningkat (Murugan et al., 2014). Dengan cepatnya pertumbuhan populasi di seluruh dunia bersama dengan peningkatan lingkungan industry, semakin banyak bahan racun yang dibuang ke laut, yang sulit untuk dikontrol. Pencemaran laut merupakan ancaman yang benar-benar perlu ditangani. Bahan kimia, khususnya pestisida, telah terbukti memiliki efek negatif yang nyata. Penggunaan bahan kimia dalam pertanian dianggap membantu kemajuan pertanian di negara-negara yang sedang berkembang, dengan memenuhi kebutuhan pangan dan sandang mereka sendiri (Cozzolino et al., 2013).

Setelah mencapai konsentrasi tertentu, residu pestisida yang tercemar dalam air akan memiliki dampak yang signifikan terhadap organisme akuatik yang hidup di dalamnya, serta lingkungan sekitarnya. Karena ikan dapat menyerap berbagai pestisida, terutama yang bersifat lipofilik (mudah terikat dalam jaringan lemak), ikan yang hidup di perairan yang tercemar pestisida akan menyerap dan menyimpan pestisida dalam tubuh mereka (Cardoso et al., 2012). Dalam kondisi perairan subletal, konsentrasi residu pestisida dalam tubuh ikan yang dihasilkan melalui proses bioakumulasi akan meningkat seiring dengan waktu pemaparan yang diperlukan untuk mencapai kondisi steady state. Selain itu, pengaruh lanjut dari bioakumulasi pestisida pada konsentrasi tertentu dapat secara signifikan mengurangi laju pertumbuhan dan mempengaruhi kondisi (Andral et al., 2011).

KESIMPULAN

Pestisida dan bahan kimia terkait dapat mengganggu keseimbangan antara spesies dan ekosistemnya. Pestisida berkontribusi besar terhadap perubahan organisme air tawar dan mempengaruhi aktivitas beberapa enzim. Kehidupan akuatik sangat rentan terhadap air yang terkontaminasi pestisida. Ini dapat berdampak pada tanaman air, mengurangi jumlah oksigen terlarut dalam air, dan dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan perilaku dalam populasi ikan. Pencemaran laut merupakan ancaman yang benar-benar perlu ditangani. Bahan kimia, khususnya pestisida, telah terbukti memiliki efek negatif yang nyata. Penggunaan bahan kimia dalam pertanian dianggap membantu kemajuan pertanian di negara-negara yang sedang berkembang, dengan memenuhi kebutuhan pangan dan sandang mereka sendiri

DAFTAR PUSTAKA

Akan, J.C., F.I. Abdulrahman, and Z. M. Chellube. 2014. Organochlorine and organophosphorus pesticide residues in fish samples from Lake Chad, Baga, North. Eastern Nigeria. International J. of Innovation, Management and Technology. 5(2):87-92. DOI:10.7763/IJIMT.2014.V5.492

Andral, B., F. Galgani, C. Tomasino, M. Bouchoucha, C. Blottiere, A. Scarpato, J. Benedicto, S. Deudero, M. Calvo, A. Cento, S. Benbrahim, M. Boulahdid, and C. Sammari. 2011. Chemical contamination baseline in the western basin of the Mediterranean Sea based on transplanted mussels. Arch. Environ. Contam. Toxicol., 61(2):261-271. DOI:10.1007/s00244-010-9599-x

Cardoso, P.G., E, Pereira, T.F. Grilo, A.C. Duarte, M.A. Pardal. 2012. Kinetics of mercury bioaccumulation in the polychaete Hediste diversicolor and in the bivalve Scrobicularia plana, through a dietary exposure pathway. Water Air Soil Pollut., 223:421-428. DOI:10.1007/s11270-011-0870-1

Cozzolino, V., V. D. Meo, dan A. Piccolo. 2013. Impact of Arbuscular Mycorrhizal Fungi Applications on Maize Production and Soil Phosphorus Availability. Journal of Geochemical Exploration. 40–44. DOI:10.1016/j.gexplo.2013.02.006

Cruz E., Bravo-Durán V., Ramírez F. and Castillo L., 2014. Environmental hazards associated with pesticide import into Costa Rica, 1977-2009. Journal of Environmental Biology (JEB). 35(5): 43-55, January 2014.

Murugan A.V, Swarman T.P, Gnanasambadan S. (2013). Status and effect of pesticide residues in soils under different land uses of Andaman Islands, India Article. PubMed. April 2013. DOI:10.1007/s10661-013-3162-y

Ogunfowokan1 A., Oyekunle1 J., Torto N. and Akanni1 S., 2012. A study on persistent organochlorine pesticide residues in fish tissues and water from an agricultural fish pond. Emir. J. Food Agric., Vol.24 (2), pp.:165-184.

Srinivasulu M., and Ortiz D.R. (2017). Effect of Pesticides on Bacterial and Fungal Populations in Ecuadorian Tomato Cultivated Soils. Journal Environmental Processes, 4(1) 93–105. DOI:10.1007/s40710-017-0212-4.

Kamis, 18 Mei 2023

LOGAM BERAT (MERKURI)

 MERKURI

PENDAHULUAN

Pencemaran telah menjadi permasalahan bagi sebagian besar wilayah perairan di Indonesia, termasuk ekosistem sungai yang merupakan habitat bagi beragam biota air yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Organisme tersebut di antaranya tumbuhan air, ikan, krustacea, gastropoda, bentos serta plankton dan perifiton. Salah satu pencemar yang berpotensi menurunkan dan merusak daya dukung lingkungan sungai adalah logam berat. Logam berat merupakan bahan pencemar yang berbahaya karena bersifat toksik jika terdapat dalam jumlah besar dan memengaruhi berbagai aspek dalam perairan, baik secara biologi maupun ekologi. Indikator pencemaran di lingkungan perairan adalah kandungan logam berat yang terakumulasi di dalam air dan sedimen perairan tersebutLogam berat yang ada pada perairan lama-kelamaan akan turun dan mengendap pada dasar perairan.

Salah satu limbah yang perlu diteliti adalah logam berat. Logam berat banyak digunakan sebagai bahan baku maupun media penolong dalam berbagai jenis industri. Masuknya limbah ini ke perairan laut dapat mengurangi kualitas perairan dan menimbulkan pencemaran. Selain mengubah kualitas perairan, logam berat yang terendapkan bersama dengan sedimen juga dapat menyebabkan transfer bahan kimia beracun dari sedimen ke organisme. Logam berat memiliki sifat yang sulit di degradasi, mudah terlarut dalam air, sedimen, dan dapat terakumulasi dalam tubuh biota perairan. Adanya logam berat di lingkungan perairan adalah suatu ancaman bagi ekosistem yang ada disekitarnya karena sifat toksisitasnya tidak dapat diuraikan secara alamiah, serta kemampuan untuk terakumulasi secara biologis pada rantai makanan.

Logam berat adalah logam yang memiliki berat jenis lebih besar dari 5 g/cm3. Pada dasarnya logam berat ini mencemari tanah, air, dan udara. Logam berat yang menumpuk dalam tubuh merupakan salah satu penyebab penyakit degenaratif terutama kanker. Berbagai macam logam berat yang ada, merkuri (Hg) merupakan logam berat paling berbahaya. Merkuri (Hg) berbentuk organik dan anorganik. Merkuri (Hg) anorganik yang berada dilingkungan akan diubah menjadi merkuri (Hg) organik dalam bentuk methylmerkuri dan dimethylmerkuri yang sangat berbahaya bagi organisme sekitar termasuk ikan dan manusia (Okpala et al., 2018). Merkuri (Hg) masuk secara langsung ke dalam perairan melalui air hujan dan pencucian tanah serta aliran sungai (Dane & Sisman, 2020). 

PEMBAHASAN

Merkuri (Hg) sulit untuk terdegradasi dari tubuh dan memiliki daya ikat yang tinggi pada jaringan tubuh, terutama pada biota perairan (Duan et al., 2020). Oleh karena merkuri (Hg) aktif terlibat dalam rantai makan. Merkuri (Hg) yang masuk keperairan diabsorbsi dan dimetabolisme oleh mikroorganisme melalui proses metilasi dan menghasilkan methylmerkuri. Mikroorganisme menjadi makanan moluska, krustase dan ikan. Hal ini membahayakan manusia karena berperan sebagai konsumen tingkat akhir dari rantai makanan. Merkuri (Hg) baik dalam bentuk metil maupun dalam bentuk alkil yang masuk ke dalam tubuh manusia secara terus menerus akan menyebabkan kerusakan permanen pada otak, hati dan ginjal (Clarkson et al, 2003; Genchi et al., 2017). 

Kontaminasi merkuri pada pesehatan manusia dapat terpapar oleh merkuri melalui proses respirasi secara langsung maupun melalui proses rantai makanan jika memakan asupan seperti ikan dan biota perairan yang sudah tercemar merkuri (Yahyahzedeh et al., 2017; Cortes et al., 2018; Eagles-Smith et al.,2018; Lavoie et al., 2018). Paparan merkuri dalam tubuh manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius, meskipun hanya dalam konsentrasi yang rendah (Genchi et al., 2017). Keracunan oleh merkuri dapat mengakibatkan terganggunya fungsi ginjal dan hati (Choi et al., 2017; Akkoyun et al., 2018). Merkuri organik dapat memasuki plasenta dan merusak janin pada wanita hamil sehingga menyebabkan cacat bawaan, kerusakan DNA dan kromosom, mengganggu saluran darah ke otak serta menyebabkan kerusakan otak (Clarkson et al, 2003; Genchi et al., 2017; Martίn-del-Campo et al., 2019).

Untuk menghilangkan senyawa logam merkuri, dapat dilakukan dengan cara pengendapan sampai tingkat konsentrasi yang rendah dengan menggunakan senyawa karbonat, phospat atau sulfida. Jika pengendapan merkuri dilakukan dalam bentuk sulfida, seringkali masih ditemukan residual merkuri dengan konsentrasi yang cukup besar (Asare et al., 2018). Hal ini disebabkan karena reduksi senyawa menjadi bentuk logam merkuri oleh sulfida, sebagian merkuri tidak dapat membentuk senyawa sulfida yang tak larut dalam air. Merkuri dapat larut dalam air sekitar 25 µg/l, dimana konsentrasi tersebut masih di atas ambang batas yang dibolehkan (mg/l untuk standar air limbah). Untuk menurunkan konsentrasi merkuri sampai tingkat yang lebih rendah, residual merkuri di dalam air olahan harus dioksidasi menjadi bentuk merkuri 2 dan selanjutnya diolah kembali untuk mencapai konsentrasi residual merkuri pada tingkat yang rendah. Jika penghilangan merkuri dilakukan dengan cara pengendapan menjadi bentuk merkuri phospat, maka tahap oksidasi harus dilkukan sebelum proses pengendapan. Selanjutnya pada awal tahap pengendapan residual phospat harus diendapkan dengan penambahan ion kalsium (dengan pembambahan kapur).

Merkuri dapat juga dihilangkan dengan proses pertukaran ion. Dalam hal ini diperlukan proses oksidasi sebelum proses pertukaran ion. Proses penghilangan merkuri dengan pertukaran ion dilakukan dengan menggunakan jenis resin atau resin chelate (chelating resin) tertentu. Sebagian dari resin yang sudah tidak bisa diregenerasi atau rusak (hancur) harus dibuang dan harus dikelola sebagai limbah berbahaya beracun (B3). Karbon aktif granular sering digunakan untuk proses pengolahan lanjut air yang sudah diolah dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi. Untuk menghilangkan kandungan merkuri sampai tingkat konsentrasi yang rendah umumnya menggunakan beberapa tahapan proses (multi step process) yaitu gabungan proses pengendapan, proses pertukaran ion dan proses adsorpsi dengan karbon aktif granular (Aziz et al., 2017).

PENUTUP

Salah satu limbah yang perlu diteliti adalah logam berat. Logam berat banyak digunakan sebagai bahan baku maupun media penolong dalam berbagai jenis industri. Masuknya limbah ini ke perairan laut dapat mengurangi kualitas perairan dan menimbulkan pencemaran. Berbagai macam logam berat yang ada, merkuri (Hg) merupakan logam berat paling berbahaya. Merkuri (Hg) berbentuk organik dan anorganik. Merkuri (Hg) anorganik yang berada dilingkungan akan diubah menjadi merkuri (Hg) organik dalam bentuk methylmerkuri dan dimethylmerkuri yang sangat berbahaya bagi organisme sekitar termasuk ikan dan manusia. Kontaminasi merkuri pada pesehatan manusia dapat terpapar oleh merkuri melalui proses respirasi secara langsung maupun melalui proses rantai makanan jika memakan asupan seperti ikan dan biota perairan yang sudah tercemar merkuri. Untuk menghilangkan senyawa logam merkuri, dapat dilakukan dengan cara pengendapan sampai tingkat konsentrasi yang rendah dengan menggunakan senyawa karbonat, phospat atau sulfida. Jika pengendapan merkuri dilakukan dalam bentuk sulfida, seringkali masih ditemukan residual merkuri dengan konsentrasi yang cukup besar.


DAFTAR PUSTAKA

Asare ML, Cobbina SJ, Akpabey FJ, Duwiejuah AB, Abuntori ZN. 2018. Heavy Metal Concentration in Water, Sediment and Fish Species in the Bontanga Reservoir, Ghana. Toxicol. Environ. Health. Sci., 10(1): 49-58. DOI: 10.1007/s13530-018-0346-4

Aziz FZA, Zulkifli SZ, Mohamat-Yusuff F, Azmai MNA, Ismail A. 2017. A Histological Study on MercuryInduced Gonadal Impairment in Javanese Medaka (Oryzias javanicus). Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 17: 621-627

Choi J, Bae S, Lim H, Lim J, Lee Y, Ha M, Kwon H. 2017. Mercury Exposure in Association With Decrease of Liver Function in Adults: A Longitudinal Study. J Prev Med Public Health, 50:377-385

Cortes J, Peralta J, Díaz-Navarro R. 2018. Acute respiratory syndrome following accidental inhalation of mercury vapor. Clin Case Rep., 6:1535–1537

Dane H, Şïşman T. 2020. A morphohistopathological study in the digestive tract of three fish species influenced with heavy metal pollution. Chemosphere, 242: 125212. DOI: 10.1016/j.chemosphere.2019.125212

Duan P, Khan S, Ali N, Shereen MA, Siddique Y, Ali B, Iqbal HMN, Nabi G, Sajjad W, Bilal M. 2020. Biotransformation fate and sustainable mitigation of a potentially toxic element of mercury from environmental matrices. Arabian Journal of Chemistry, 13: 6949–6965

Eagles-Smith CA, Silbergeld EK, Basu N, Bustamante P, Diaz-Barriga F, Hopkins WA, Kidd KA, Nyland JF. 2018. Modulators of mercury risk to wildlife and humans in the context of rapid global change. Ambio, 47: 170– 197

Genchi G, Sinicropi MS, Carocci A, Lauria G, Catalano A. 2017. Mercury Exposure and Heart Diseases. Int. J. Environ. Res. Public Health, 14(74). DOI:10.3390/ijerph14010074

Lavoie RA, Bouffard A, Maranger R, Amyot M. 2018. Mercury transport and human exposure from global marine fisheries. ScIentIfIc ReportS, 8:6705. DOI:10.1038/s41598-018-24938-3

Okpala COR, Sardo G, Vitale S, Bono G, Arukwe A. 2018. Hazardous properties and toxicological update of mercury: From fish food to human health safety perspective. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 58(12): 1986- 2001. DOI: 10.1080/10408398.2017.1291491

Rabu, 10 Mei 2023

MARINE DEBRIS

MARINE DEBRIS DAN SOLUSINYA 

Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri
Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

PENDAHULUAN

Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara daratan dan lautan, dimana lautan masih memberi pengaruh terhadap daratan. Wilayah memiliki potensi sumberdaya berlimpah dan jasa-jasa  lingkungan  yang  indah  (Johan,  2016;  Johan  et al.,  2017;  Johan  dkk., 2018;,   Apriliansyah,   2018)   serta   wilayah   yang   memiliki   permasalah-permasalah    yang    begitu    besar    diantaranya    adalah    pencemaran. Pencemaran sampah laut (marine debris) merupakan masalah yang telah mendunia, bahkan pada perairan yang jauh dari aktivitas manusia sekalipun. Hal ini disebabkan sampah yang terdapat di laut dapat dengan mudah terbawa arus dan angin dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari suatu samudera ke samudera yang lain. Pencemaran laut dapat berasal dari berbagai sumber seperti transportasi laut (Widodo&Wahyuni, 2020), limpasan dari darat (Firmansyah, dkk., 2012), kegiatan penangkapan ikan (Irawan, dkk., 2020), selain itu juga pemanfaatan laut sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat (Almroth & Eggert, 2019).

Sampah adalah ancaman terbesar dunia hingga saat kini, dalam beberapa tahun terakhir masalah sampah laut telah menarik perhatian dunia, sampah laut (marine debris) disebut juga sebagai sampah lintas batas karena dianggap sebagai pencemaran dan akan mengganggu kehidupan ekosistim laut serta estetika keindahan laut. Sampah laut didefinisikan sebagai bahan padat yang terus-menerus diproduksi atau diproses yang dibuang, dibuang atau ditinggalkan di lingkungan laut dan pesisir (Nguyen et al. 2022). Sampah laut terdiri dari barang-barang yang telah dibuat atau digunakan oleh orang-orang dan dengan sengaja dibuang ke laut atau sungai atau di pantai; dibawa secara tidak langsung ke laut bersama sungai, limbah, air hujan atau angin, material yang dapat hilang di laut dalam cuaca buruk (alat tangkap, kargo); atau benda-benda yang sengaja ditinggalkan oleh orang-orang di pantai juga termasuk sampah laut. Sampah laut paling banyak ditemukan di pantai karena dinamika oseanografi yang bersinggungan langsung dengan daratan, seperti arus, gelombang, dan runoff dari sungai

Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh sampah laut dapat terjadi bukan hanya berasal dari aktivitas dan pola hidup masyarakat sekitar tetapi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor alam seperti musim hujan, angin maupun arus perairan karena dapat membawa sampah plastik dan sampah lainnya dari satu wilayah menuju ke wilayah lain (Yudhantari et al, 2019). Sampah laut merupakan polusi di wilayah pesisir berupa material padatan seperti plastik, kain, kaca, logam, kayu dan karet yang memiliki skala ukuran > 5 mm hingga 1 m. Dampak negatif dari keberadaan polusi sampah laut yaitu rusaknya ekologi perairan disebabkan oleh terganggunya pergerakan biota yang terjerat oleh jaring nelayan dan rusaknya saluran pencernaan pada ikan, burung dan penyu laut karena memakan sampah plastik. Adapun dampak negatif lainnya adalah menurunkan unsur estetika disekitar wilayah pesisir karena terlihat kotor sehingga berdampak ke pendapatan ekonomi khususnya dalam bidang pariwisata (Cordova, 2017).

ISI

Plastik adalah istilah umum bagi polimer, yaitu material yang terdiri dari rantai panjang karbon dan elemen lain, seperti oksigen, nitrogen, klorin atau belerang yang mudah dibuat menjadi berbagai bentuk dan ukuran. Plastik dibuat dengan cara polimerisasi yaitu menyusun dan membentuk bahan– bahan dasar plastik (monomer) secara sambungmenyambung (Setyablogku, 2012). Plastik juga mengandung zat nonplastik yang disebut aditif. Zat aditif diperlukan untuk memperbaiki sifat plastik itu sendiri. Bahan aditif untuk plastik diantaranya berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap sinar ultraviolet dan antilekat (Setyablogku, 2012). Plastik merupakan sebuah bahan yang mudah dibentuk menjadi berbagai jenis material. Plastik dibentuk dari ikatan polimer organik maupun anorganik, sepertikarbon, silikon, hidrogen, oksigen dan klorida (Shah et al., 2008).

Dampak ekonomi sampah laut sangat nyata. Di pantai, sampah laut menyebabkan masalah estetika, terutama di daerah wisata yang umumnya menyebabkan penurunan lalu lintas wisata dan mengharuskan pemerintah kota setempat untuk mengeluarkan biaya besar untuk kebersihan (Carić & Mackelworth, 2014). Di laut, sampah laut yang mengapung membahayakan lalu lintas perkapalan. Benda-benda yang berukuran kecil dapat mengganggu gerak baling-baling kapal, sementara sampah dengan ukuran yang lebih besar dapat memungkinkan terjadinya tabrakan (Rothäusler et al. 2019). Selain itu, serasah yang terperangkap oleh jaring ikan nelayan menjadi masalah yang terus berulang (Strafella et al., 2015). Sampah plastik yang dihasilkan akan terakumulasi selama periode waktu tertentu di pantai, sedangkan sampah plastik yang mengapung atau terbawa ke dasar laut akan mengalami proses fragmentasi. Sampah laut tersebut kemudian menumpuk, terdekomposisi (yang akan berlangsung ratusan tahun) atau dikonsumsi oleh organisme laut (Gallo et al. 2018).

Pengolahan sampah hendaknya melibatkan berbagai komponen pemangku kepentingan dengan memperhatikan karakteristik sampah serta keberadaan sosial-budaya masyarakat setempat (Sahil et al., 2016). Penyelesaian masalah sampah harus menyeluruh dari hulu ke hilir dan turut terlibatnya seluruh pihak agar persoalan sampah dapat diatasi (Mahyudin, 2017). Maka dari itu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pemerintah berkomitmen akan mengurangi sampah plastik dan sampah laut lainnya sebesar 70% pada tahun 2025 (Perpres No. 83 tahun 2018). Sejalan dengan itu, masih dalam Perpres yang sama tentang penanganan sampah laut dan Rencana Aksi Nasional (RAN) terdapat 5 strategi yang diterapkan dalam penanganan sampah laut, yaitu pengawasan dan penegakan hukum; peningkatan kesadaran para pemangku kepentingan; mekanisme pendanaan, penguatan kelembagaan, dan pengelolaan sampah yang bersumber dari darat; penanggulangan sampah di pesisir dan laut; serta penelitian dan pengembangan (Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, 2020).

DAFTAR PUSTAKA

Almroth, B.C. & H. Eggert. 2019. Marine Plastic pollution: Sources, Impacts, and policy Issues. Review of Environmental Economics and Policy 13(2): 317–326. doi:10.1093/reep/rez012.

Cordova, M.R. 2017. Pencemaran plastik di Laut. Oseana; 42(3): 21-30

Firmansyah, I., E. Riani, R. Kurnia. 2012. Model Pengendalian Pencemaran Laut Untuk Meningkatkan Daya Dukung Lingkungan Teluk Jakarta. JPSL 2(1): 22-28.

Gallo F, Fossi C, Weber R, Santillo D, Sousa J, Ingram I, Nadal A, and Romano D. 2018. Marine litter plastics and microplastics and their toxic chemicals components: the need for urgent preventive measures. Environmental Sciences Europe. 30:13. https://doi.org/10.1186/s12302-018-0139-z.

Irawan, F., Y. Novita, D.A. Soeboer. 2020. Limbah dari Aktivitas Penangkapan Ikan di PPn Pelabuhan Ratu. Marine Fisheries. 11(1): 61-73.

Mahyudin, R.P. (2017). Kajian Permasalahan Pengelolaan Sampah dan Dampak Lingkungan di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Jukung Jurnal Teknik Lingkungan, 3(1), 66-74.

Shah, A. A., Hasan, F., Hameed, A., & Ahmed, S. (2008). Biological degradation of plastics: a comprehensive review. Biotechnol. Adv. 26, 246e265.

Strafella P, Fabi G, Spagnolo A, Grati F, Polidori P, Punzo E, Fortibuoni T, Marceta B, Raicevich S, Cvitkovic I, Despalatovic M, and Scarcella G. 2015. Spatial pattern and weight of seabed marine litter in the northern and central Adriatic Sea. Marine Pollution Bulletin. 91 (1): 120–127. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2014.12.018.

Widodo, B.L.H. & Wahyuni, E.T. 2020. Manajemen Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut Akibat dari Pengoperasian Kapal. Majalah Ilmiah Gema Maritim 22(1): 60–66.https://doi.org/10.37612/gema-maritim. v22i1.52

Yudhantari, C.I., Hendrawan, I.G., & Pusphita, N.L. 2019. Kandungan mikroplastik pada saluran pencernaan Ikan Lemuru Protolan (Sardinella Lemuru) hasil tangkapan di Selat Bali. Journal of Marine Research and Technology. 2(2): 48-52.

Kamis, 04 Mei 2023

MIKROPLASTIK

BAHAYA PENCEMARAN MIKROPLASTIK 

Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri
Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan penyumbang limbah plastik terbesar didunia setelah China sebanyak 60-80% dari total sampah dilaut. Indonesia membuang 64 juta ton sampah ke laut dan 3,2 juta ton diantaranya adalah sampah plastik (Ridlo et al., 2020). Penelitian dari World Wild Fund (WWF) Indonesia menunjukkan bahwa 25% spesies ikan di laut mengandung partikel mikroplastik. Sementara data dari Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa setiap tahunnya diperkirakan lautan Indonesia menerima sebesar 70-80% sampah plastik yang bersumber dari manusia. Sebagian sampah tersebut membuat ekosistem dan biota laut terancam.

Salah satu permasalahan yang dialami oleh semua negara di dunia saat ini yaitu sampah. Sampah merupakan hsail buangan dari barang ataupun bahan yang tidak digunakan lagi seperti sisa makanan serta kemasan plastik makanan dan minuman. Tingginya produksi sampah yang dihasilkan sejalan dengan populasi penduduk mengingat setiap individu pastinya menghasilkan sampah dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Sampah plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.

Penggunaan plastik saat ini telah menjadi kebutuhan sehari-hari. Meningkatnya jumlah penduduk, aktivitas manusia dan pola kehidupan masyarakat yang tetap mengakibatkan tekanan terhadap lingkungan semakin berat. Beragamnya aktivitas manusia dalam mencukupi kehidupan sehari-hari yang berasal dari pertanian, industri, kegiatan rumah tangga akan meningkatkan penggunaan air sungai sekaligus menghasilkan limbah yang semakin besar dari waktu ke waktu. Hal tersebut mengakibatkan penurunan kualitas air serta pencemaran mikroplastik di perairan. Sifat plastik yang ringan, kuat dan tahan lama serta murah menyebabkan penggunaan plastik terus meningkat untuk kebutuhan sehari-hari. Sampah plastik yang dibuang ke wilayah pantai akan terbawa arus pasang surut dan akan mengendap pada ekosistem pesisir penting seperti mangrove, lamun dan terumbu karang (Tuhumury dan Agustina, 2020).

Plastik terdegradasi menjadi partikel yang lebih kecil yang dikenal sebagai mikroplastik, sehingga dapat terakumulasi di air laut dan sedimen. Mikroplastik merupakan potongan plastik yang sangat kecil dan dapat mencemari lingkungan. Mikroplastik dilaut umumnya berasal dari plastik yang berada di daratan yang memiliki unsur kimia dan tidak mengalami perubahan atau pemotongan atom penyusunnya (Wang et al., 2017). Terdapat dua tipe mikroplastik yaitu mikroplastik primer dan sekunder. Mikroplastik primer adalah hasil produksi plastik yang dibuat dalam bentuk mikro, seperti microbeads pada produk perawatan kulit yang masuk ke dalam saluran air. Mikroplastik sekunder merupakan pecahan, bagian, atau hasil fragmentasi dari plastik yang lebih besar (Gracia and Lin, 2019).

Mikroplastik tidak hanya ada di air permukaan, tetapi juga di sedimen, tanah, dan organisme. Mikroplastik dengan ukuran khusus dan sifat stabil adalah tempat berkembang biak bagi mikroorganisme dan pembawa polutan (Pan et al., 2019). Organisme akuatik dapat dengan mudah menelan mikroplastik karena ukurannya yang kecil dan menyerupai larva organisme termasuk plankton (Kataoka, 2019). 

ISI

Salah satu limbah plastik yang dapat mempengaruhi siklus makanan di wilayah pesisir dan laut adalah mikroplastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik yang diameternya berukuran kurang dari 5 mm. Secara proses kimiawi, potensi dampak sampah laut akan cenderung meningkat seiring menurunnya ukuran partikel plastik Mikroplastik memiliki potensi menyebabkan terganggunya rantai makanan apabila menumpuk di wilayah perairan. Mikroplastik berpotensi memiliki potensi ancaman lebih serius dibanding dengan material plastik yang berukuran besar bagi organisme yang mendiami tingkatan tropik yang lebih rendah, seperti plankton yang mempunyai partikel rentan terhadap proses pencernaan mikroplastik sebagai akibatnya melalui proses bioakumulasi dapat mempengaruhi organisme tropik tingkat tinggi (Haji et al., 2021).

Pencemaran mikroplastik telah tersebar secara global menjadi permasalahan yang harus di waspadai. Mikroplastik memiliki banyak sekali dampak yang luas dan merata yaitu kesehatan manusia, ekonomi, dan pariwisata. Mikroplastik dapat tersebar luas di lingkungan melalui proses hidrodinamik. Firmansyah dkk. (2021) menyatakan keberadaan mikroplastik mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Mikroplastik banyak tersebar pada kolom air dan sedimen kemudian akan masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi biota yang mengandung mikroplastik (Mardiyana & Kristiningsih, 2020).

Kontaminasi mikroplastik di wilayah perairan dapat memasuki rantai makanan dan terkonsumsi oleh hewan perairan. Mikroplastik di perairan  dapat  secara  langsung  maupun  tidak  langsung  masuk  dan  terkonsumsi  oleh organisme  akuatik  melalui  jalur  belitan  (entanglement),  tertelan  (ingestion),  dan interaksi  (interaction). Ukuran  yang  kecil  menyebabkan mikroplastik  sering  dianggap  sebagai  makanan  oleh  hewan  perairan  dan  masuk  ke saluran pencernaan sehingga berpotensi membawa partikel tersebut masuk ke piramida makanan hingga ke tingkat trofik tertinggi (Wahdani et al., 2020). Kontaminasi mikroplastik di lingkungan dan organisme dapat menimbulkan efek bahaya.   Namun,   masih   belum   banyak   masyarakat   mengetahui   kondisi   terkini keberadaan  mikroplastik  di  sekitar  sehingga monitoring serta  edukasi  persampahan kepada   masyarakat   sangat   penting   dilakukan   secara berkesinambungan   untuk membentuk  masyarakat  yang  bijak  dalam  mengelola  sampah.

KESIMPULAN

Sampah plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Sifat plastik yang ringan, kuat dan tahan lama serta murah menyebabkan penggunaan plastik terus meningkat untuk kebutuhan sehari-hari. Sampah plastik yang dibuang ke wilayah pantai akan terbawa arus pasang surut dan akan mengendap pada ekosistem pesisir penting seperti mangrove, lamun dan terumbu karang. Mikroplastik memiliki banyak sekali dampak yang luas dan merata yaitu kesehatan manusia, ekonomi, dan pariwisata. Mikroplastik dapat tersebar luas di lingkungan melalui proses hidrodinamik. Kontaminasi mikroplastik di lingkungan dan organisme dapat menimbulkan efek bahaya.   Namun,   masih   belum   banyak   masyarakat   mengetahui   kondisi   terkini keberadaan  mikroplastik  di  sekitar  sehingga monitoring serta  edukasi  persampahan kepada   masyarakat   sangat   penting   dilakukan   secara berkesinambungan   untuk membentuk  masyarakat  yang  bijak  dalam  mengelola  sampah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Firmansyah, Y. W., Fuadi, M. F., Ramadhansyah, M. F., Sugiester S, F., Widyantoro, W., Lewinsca, M. Y., Diyana, S., Marliana, N. I. V., Arumdani, I. S., Pratama, A. Y., Azhari, D., Sukaningtyas, R., & Hardiyanto, A. (2021). Keberadaan Plastik di Lingkungan, Bahaya terhadap Kesehatan Manusia, dan Upaya Mitigasi: Studi Literatur. Jurnal Serambi Engineering, 6(4), 2279–2285. https://doi.org/10.32672/jse.v6i4.3471.

Garcia, B., M. M. Fang, J. Lin. 2019. Marine Plastic Pollution in Asia: All Hands on Deck!. Chinese Journal of Environmental Law 3(1): 11-46. DOI: https://doi.org/10.1163/ 24686042-12340034.

Haji, A.T.S., B, Rahadi., N.T., Firdausi. 2021. Analisis kelimpahan mikroplastik pada air permukaan di sungai metro, Malang. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 8(2): 78-84. DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jsal.2021.008.02.3.

Kataoka, T. (2019) ‘Assessment of the sources and inflow processes of microplastics in the river environments of Japan’, Environmental Pollution, 244, pp. 958–965. DOI: 10.1016/j.envpol.2018.10.111.

Mardiyana, M., & Kristiningsih, A. (2020). Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut terhadap Zooplankton. Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan (JPPL), 2(1), 29–36. DOI: https://doi.org/10.35970/jppl.v2i1.147.

Pan, Z. et al. (2019) ‘Microplastics in the Northwestern Pacific: Abundance, distribution, and characteristics’, Science of the Total Environment, 650, pp. 1913–1922. doi: 10.1016/j.scitotenv.2018.09.244.

Ramadan, A. H. and Sembiring, E. (2020) ‘Occurrence of Microplastic in surface water of Jatiluhur Reservoir’, E3S Web of Conferences, 148, pp. 1–4. doi: 10.1051/e3sconf/202014807004.

Tuhumuy, N, C. dan A, Ritonga. 2020. Identifikasi keberadaan dan jenis mikroplastik pada kerang darah di perairan tanjung tiram, teluk Ambon. Jurnal Triton. 16(1): 1-7. DOI: https://doi.org/10.30598/TRITONvol16issue1page1-7

Wang, J., Peng, J., Tan, Zhiwei, Z. Y. G., Chen, Q. & Cai, L. 2017. Microplastics in the Surface Sediments from the Beijiang River Littoral Zone : Composition, Abundance, Surface Texture Sand Interaction with Heavy Metals. J. Chemsphere. 171:248-258. DOI: https://doi.org/10.1016/j.chemosphere.2016.12.074


PENCEMARAN PESTISIDA

  BAHAYANYA PENCEMARAN PESTISIDA PADA EKOSISTEM LAUT Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universita...