Rabu, 10 Mei 2023

MARINE DEBRIS

MARINE DEBRIS DAN SOLUSINYA 

Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri
Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

PENDAHULUAN

Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara daratan dan lautan, dimana lautan masih memberi pengaruh terhadap daratan. Wilayah memiliki potensi sumberdaya berlimpah dan jasa-jasa  lingkungan  yang  indah  (Johan,  2016;  Johan  et al.,  2017;  Johan  dkk., 2018;,   Apriliansyah,   2018)   serta   wilayah   yang   memiliki   permasalah-permasalah    yang    begitu    besar    diantaranya    adalah    pencemaran. Pencemaran sampah laut (marine debris) merupakan masalah yang telah mendunia, bahkan pada perairan yang jauh dari aktivitas manusia sekalipun. Hal ini disebabkan sampah yang terdapat di laut dapat dengan mudah terbawa arus dan angin dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari suatu samudera ke samudera yang lain. Pencemaran laut dapat berasal dari berbagai sumber seperti transportasi laut (Widodo&Wahyuni, 2020), limpasan dari darat (Firmansyah, dkk., 2012), kegiatan penangkapan ikan (Irawan, dkk., 2020), selain itu juga pemanfaatan laut sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat (Almroth & Eggert, 2019).

Sampah adalah ancaman terbesar dunia hingga saat kini, dalam beberapa tahun terakhir masalah sampah laut telah menarik perhatian dunia, sampah laut (marine debris) disebut juga sebagai sampah lintas batas karena dianggap sebagai pencemaran dan akan mengganggu kehidupan ekosistim laut serta estetika keindahan laut. Sampah laut didefinisikan sebagai bahan padat yang terus-menerus diproduksi atau diproses yang dibuang, dibuang atau ditinggalkan di lingkungan laut dan pesisir (Nguyen et al. 2022). Sampah laut terdiri dari barang-barang yang telah dibuat atau digunakan oleh orang-orang dan dengan sengaja dibuang ke laut atau sungai atau di pantai; dibawa secara tidak langsung ke laut bersama sungai, limbah, air hujan atau angin, material yang dapat hilang di laut dalam cuaca buruk (alat tangkap, kargo); atau benda-benda yang sengaja ditinggalkan oleh orang-orang di pantai juga termasuk sampah laut. Sampah laut paling banyak ditemukan di pantai karena dinamika oseanografi yang bersinggungan langsung dengan daratan, seperti arus, gelombang, dan runoff dari sungai

Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh sampah laut dapat terjadi bukan hanya berasal dari aktivitas dan pola hidup masyarakat sekitar tetapi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor alam seperti musim hujan, angin maupun arus perairan karena dapat membawa sampah plastik dan sampah lainnya dari satu wilayah menuju ke wilayah lain (Yudhantari et al, 2019). Sampah laut merupakan polusi di wilayah pesisir berupa material padatan seperti plastik, kain, kaca, logam, kayu dan karet yang memiliki skala ukuran > 5 mm hingga 1 m. Dampak negatif dari keberadaan polusi sampah laut yaitu rusaknya ekologi perairan disebabkan oleh terganggunya pergerakan biota yang terjerat oleh jaring nelayan dan rusaknya saluran pencernaan pada ikan, burung dan penyu laut karena memakan sampah plastik. Adapun dampak negatif lainnya adalah menurunkan unsur estetika disekitar wilayah pesisir karena terlihat kotor sehingga berdampak ke pendapatan ekonomi khususnya dalam bidang pariwisata (Cordova, 2017).

ISI

Plastik adalah istilah umum bagi polimer, yaitu material yang terdiri dari rantai panjang karbon dan elemen lain, seperti oksigen, nitrogen, klorin atau belerang yang mudah dibuat menjadi berbagai bentuk dan ukuran. Plastik dibuat dengan cara polimerisasi yaitu menyusun dan membentuk bahan– bahan dasar plastik (monomer) secara sambungmenyambung (Setyablogku, 2012). Plastik juga mengandung zat nonplastik yang disebut aditif. Zat aditif diperlukan untuk memperbaiki sifat plastik itu sendiri. Bahan aditif untuk plastik diantaranya berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap sinar ultraviolet dan antilekat (Setyablogku, 2012). Plastik merupakan sebuah bahan yang mudah dibentuk menjadi berbagai jenis material. Plastik dibentuk dari ikatan polimer organik maupun anorganik, sepertikarbon, silikon, hidrogen, oksigen dan klorida (Shah et al., 2008).

Dampak ekonomi sampah laut sangat nyata. Di pantai, sampah laut menyebabkan masalah estetika, terutama di daerah wisata yang umumnya menyebabkan penurunan lalu lintas wisata dan mengharuskan pemerintah kota setempat untuk mengeluarkan biaya besar untuk kebersihan (Carić & Mackelworth, 2014). Di laut, sampah laut yang mengapung membahayakan lalu lintas perkapalan. Benda-benda yang berukuran kecil dapat mengganggu gerak baling-baling kapal, sementara sampah dengan ukuran yang lebih besar dapat memungkinkan terjadinya tabrakan (Rothäusler et al. 2019). Selain itu, serasah yang terperangkap oleh jaring ikan nelayan menjadi masalah yang terus berulang (Strafella et al., 2015). Sampah plastik yang dihasilkan akan terakumulasi selama periode waktu tertentu di pantai, sedangkan sampah plastik yang mengapung atau terbawa ke dasar laut akan mengalami proses fragmentasi. Sampah laut tersebut kemudian menumpuk, terdekomposisi (yang akan berlangsung ratusan tahun) atau dikonsumsi oleh organisme laut (Gallo et al. 2018).

Pengolahan sampah hendaknya melibatkan berbagai komponen pemangku kepentingan dengan memperhatikan karakteristik sampah serta keberadaan sosial-budaya masyarakat setempat (Sahil et al., 2016). Penyelesaian masalah sampah harus menyeluruh dari hulu ke hilir dan turut terlibatnya seluruh pihak agar persoalan sampah dapat diatasi (Mahyudin, 2017). Maka dari itu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pemerintah berkomitmen akan mengurangi sampah plastik dan sampah laut lainnya sebesar 70% pada tahun 2025 (Perpres No. 83 tahun 2018). Sejalan dengan itu, masih dalam Perpres yang sama tentang penanganan sampah laut dan Rencana Aksi Nasional (RAN) terdapat 5 strategi yang diterapkan dalam penanganan sampah laut, yaitu pengawasan dan penegakan hukum; peningkatan kesadaran para pemangku kepentingan; mekanisme pendanaan, penguatan kelembagaan, dan pengelolaan sampah yang bersumber dari darat; penanggulangan sampah di pesisir dan laut; serta penelitian dan pengembangan (Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, 2020).

DAFTAR PUSTAKA

Almroth, B.C. & H. Eggert. 2019. Marine Plastic pollution: Sources, Impacts, and policy Issues. Review of Environmental Economics and Policy 13(2): 317–326. doi:10.1093/reep/rez012.

Cordova, M.R. 2017. Pencemaran plastik di Laut. Oseana; 42(3): 21-30

Firmansyah, I., E. Riani, R. Kurnia. 2012. Model Pengendalian Pencemaran Laut Untuk Meningkatkan Daya Dukung Lingkungan Teluk Jakarta. JPSL 2(1): 22-28.

Gallo F, Fossi C, Weber R, Santillo D, Sousa J, Ingram I, Nadal A, and Romano D. 2018. Marine litter plastics and microplastics and their toxic chemicals components: the need for urgent preventive measures. Environmental Sciences Europe. 30:13. https://doi.org/10.1186/s12302-018-0139-z.

Irawan, F., Y. Novita, D.A. Soeboer. 2020. Limbah dari Aktivitas Penangkapan Ikan di PPn Pelabuhan Ratu. Marine Fisheries. 11(1): 61-73.

Mahyudin, R.P. (2017). Kajian Permasalahan Pengelolaan Sampah dan Dampak Lingkungan di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Jukung Jurnal Teknik Lingkungan, 3(1), 66-74.

Shah, A. A., Hasan, F., Hameed, A., & Ahmed, S. (2008). Biological degradation of plastics: a comprehensive review. Biotechnol. Adv. 26, 246e265.

Strafella P, Fabi G, Spagnolo A, Grati F, Polidori P, Punzo E, Fortibuoni T, Marceta B, Raicevich S, Cvitkovic I, Despalatovic M, and Scarcella G. 2015. Spatial pattern and weight of seabed marine litter in the northern and central Adriatic Sea. Marine Pollution Bulletin. 91 (1): 120–127. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2014.12.018.

Widodo, B.L.H. & Wahyuni, E.T. 2020. Manajemen Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut Akibat dari Pengoperasian Kapal. Majalah Ilmiah Gema Maritim 22(1): 60–66.https://doi.org/10.37612/gema-maritim. v22i1.52

Yudhantari, C.I., Hendrawan, I.G., & Pusphita, N.L. 2019. Kandungan mikroplastik pada saluran pencernaan Ikan Lemuru Protolan (Sardinella Lemuru) hasil tangkapan di Selat Bali. Journal of Marine Research and Technology. 2(2): 48-52.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENCEMARAN PESTISIDA

  BAHAYANYA PENCEMARAN PESTISIDA PADA EKOSISTEM LAUT Dibuat oleh: Aliyah Octavioni Putri Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universita...